Monday, September 26, 2016

Dinsos DKI Cari Solusi untuk Bocah Amat yang 11 Tahun Hidup di Bajaj



Jakarta - Dinas Sosial (Dinsos) DKI akan mencarikan solusi bagi Riwayudin (54) dan anaknya Muhammad Irwan (11) atau Amat yang hampir 11 tahun tinggal di atas Bajaj. Salah satu solusi yang akan ditawarkan kepada Riwayudin adalah menawarkan panti untuk menjamin tumbuh kembang Amat.

Kepala Humas Dinsos DKI Jakarta Mifta Hulhuda mengatakan saat ini pihak Dinsos DKI fokus untuk menyelamatkan masa depan Amat karena Amat sebagai anak memiliki hak untuk tumbuh kembang secara normal. Apalagi hampir selama 11 tahun Amat tinggal bersama bapaknya di atas Bajaj yang tidak layak dijadikan tempat tinggal.

"Intinya anaknya diselamatkan dulu. Anak punya hak untuk tumbuh kembang secara normal, hak bermain, hak mendapat perlindungan, hak sehat dan lain-lain," kata Mifta kepada meja13.com lewat pesan singkat, Senin (26/9/2016).

"Dinas Sosial kan punya panti untuk anak-anak dari SD sampai SMA. Kalau memang orang tuanya mau anaknya disekolahkan di panti, Dinsos akan fasilitasi," lanjutnya.

Lebih lanjut, Mifta mengatakan, bila Riwayudin setuju Amat dititipkan di panti anak milik Dinsos DKI, hak Riwayudin tidak akan berkurang. Bila Riwayudin ingin menjenguk dan bertemu Amat, dirinya bisa datang ke panti.

"Hak orang tua terhadap anak di panti tidak berkurang," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sudin Sosial Jakarta Pusat Susan Budi Susilowati mengatakan, bila Riwayudin tidak ingin dipisahkan dari anaknya, Amat, Sudin Sosial Jakpus akan menghubungi pihak Sudin Perumahan dan Gedung DKI untuk dicarikan Rusun. Dirinya akan memfasilitasi dan memudahkan akses Riwayudin bila ingin mendapatkan Rusun.

"Bila tidak mau dipisahkan, nanti bisa hubungkan ke Rusun. Kita lihat apakah menerima atau tidak dan kebutuhannya apa. Kita hanya memfasilitasi dan memudahkan akses saja," kata Susan.
Untuk bantuan sendiri baru akan diserahkan setelah dirinya bertemu langsung dengan Riwayudin. Rencananya hari ini, Selasa (27/9), Susan akan bertemu dengan Amat di sekolahnya di SD Negeri 05 Gondangdia, Jakarta Pusat. Setelah bertemu Amat, baru Susan akan menemui Riwayudin untuk membicarakan apa yang menjadi kebutuhan mereka.

"Besok (hari ini) kita akan ke sana (SD Negeri 05 Gondangdia) untuk ketemu anaknya, lalu bersama-sama bertemu dengan bapaknya. Kita akan assessment kebutuhan apa yang sangat mereka butuhkan saat ini. Setelah itu baru kita akan berikan bantuan," lanjut Susan.

Sebelumnya, seorang anak 11 tahun siswa kelas 1 SD Negeri 05 Gondangdia, Jakarta Pusat bernama Muhammad Irwan (11) atau Amat hidup di atas sebuah Bajaj bersama bapaknya, Riwayudin (54). Sudah hampir 11 tahun mereka berdua tinggal di Bajaj yang mereka jadikan sebagai 'rumah'. Sehari-hari Amat tidur dan belajar di atas Bajaj tersebut. Bahkan tidak jarang bila bapaknya sedang narik Bajaj, Amat harus belajar di trotoar jalan di sekitar Stasiun Cikini, tempat bisanya Bajaj mereka mangkal.

Lalu bagaimana untuk urusan mandi dan mencuci? Mereka melakukan kedua hal tersebut di WC umum yang tersedia di SPBU atau di pasar. Dengan penghasilan sebagai sopir Bajaj yang tidak menentu, Riwayudin selalu berusaha untuk menyisihkan uang untuk Amat makan dan sekolah.

"Setorannya mahal. Rp 120 ribu sehari. Kadang nombok. Ngisi bahan bakar jauh juga. Nggak semua ada BBG. Ada lebihan Rp 30
ribu Alhamdulilah. Yang penting buat sekolah sama makan dia (Amat)," kata Wahyudin.
Link Alternatif :
www.bintangcapsa.com
www.meja13.net
www.capsa168.com

ANTI NAWALA : http://192.169.219.143/

No comments:

Post a Comment