Laporan Dari Arab Saudi
Bahasa Tak Jadi Penghalang Menikmati Khotbah Jumat di Masjidil Haram

Makkah - Para jemaah Indonesia antusias mengikuti salat Jumat di Masjidil Haram. Walau ada kendala bahasa dalam memahami khotbah yang disampaikan, kenikmatan ibadahnya tetap terasa.
detikcom dan tim Media Center Haji menjumpai banyak jemaah Indonesia saat salat Jumat di Masjidil Haram, Jumat (26/8/2016). Beberapa dari mereka terlihat khusyuk mendengarkan khotbah. Bahkan ada yang sempat menitikkan air mata.
Saat diwawancarai usai salat, para jemaah mengaku memang tidak sepenuhnya mengerti isi khotbah. Namun mereka menghayati dan tetap menikmatinya sebagai bagian dari prosesi ibadah.
"Salat Jumat nya enak di sini, ramai. Meski tidak mengerti, namun nikmatnya dapat. Apalah gunanya bahasa kita kalau tidak nikmat, tidak khidmat kita mendengarkan," tutur jemaah asal Medan, Syahnan Anan Nasution.

Jemaah haji Indonesia asal Medan itu baru tiba di Makkah. Mereka mengaku baru pertama mengikuti Salat Jumat di Masjidil Haram. Pengalaman salat Jumat di Masjidil Haram jadi sebuah momen reliji tersendiri, tak masalah apapun
bahasa pengantarnya.
Sebetulnya, ada radio yang bisa memberikan terjemahan khotbah Jumat di Masjidil Haram ke dalam bahasa Indonesia. Namun tak semua jemaah dapat mengaksesnya.
Pesan Khotib Jumat
Kepada para jemaah, Khatib Salat Jumat mengingatkan bahwa waktu terus berjalan tanpa seorang pun yang bisa menghentikan. Karenanya, sudah semestinya umat Islam untuk bersegera menuju jalan takwa.
Suara Khatib sempat memberat dan terisak, manakala membaca QS Ali Imran ayat 96 – 97: "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya, terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) Maqam Ibrahim."
Maqam Ibrahim menandai tempat Nabi Ibrahim berdiri ketika membangun Ka'bah bersama anaknya, Nabi Ismail. Menurut Khatib, Maqam Ibrahim menjadi bukti nyata kepatuhan dan keikhlasan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah Swt.
Hal lainnya pada Baitullah adalah keberadaan Hajar Aswad. Batu hitam yang dalam riwayat dulunya berwarna putih lalu menghitam karena dosa anak Adam ini menyimpan sejarah kebijaksanaan Rasulullah Saw. dalam memberikan rasa keadilan kepada seluruh kabilah yang hampir terpecah karena berebut kesempatan untuk meletakkanya di Kabah.
Sebagai orang yang ditakdirkan Allah memenangkan sayembara, menjadi orang yang pertama kali lewat pintu masjid, Rasulullah berhak menjadi penentu keputusan atas perselisihan tentang siapa yang harus meletakan Hajar Aswad di Kabah.
Rasulullah lalu mengambil selembar selendang dan meletakan Hajar Aswad di bagian tengahnya. Seluruh pemuka kabilah yang berselisih diminta untuk memegang ujung selendang dan bersama-sama mengangkat Hajar Aswad. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah lalu meletakkan Hajar Aswad di Kabah. Keputusan ini diterima oleh seluruh kabilah sehingga tidak terjadi pertumpahan darah.
Menutup Khutbahnya, Khatib mengajak jemaah haji untuk menjadikan momentum berhaji di Tanah Suci sebagai Syiar Tauhid untuk meng-Esakan Allah dan syiar Talbiyah untuk memenuhi panggian Allah.
"Labbaikallahumma labbaik… labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan nikmata laka wal mulk, laa syariika laka," katanya dengan suara terisak.
Link Alternatif :
www.meja13.net
www.bintangcapsa.com
www.capsa168.com
ANTI NAWALA : http://192.169.219.143/
No comments:
Post a Comment